GEMA, TARJUN - Desa Langadai berpenduduk lebih dua ribu jiwa, sebagian besar mayoritas
berprofesi nelayan. Namun, dalam kurun waktu lima ini mereka mengalami
penurunan hasil tangkapan. Penyebab terus berkurangnya ikan hasil tangkapan
disebabkan tak hanya berkurangnya hutan mangrove. Tapi intrusi air asin ke
daratan juga meningkat, selain fauna seperti burung dan lainnya kehilangan
tempat tinggal.
Hal itu, menjadi alasan warga Desa Langadai, Kecamatan Kelumpanghilir, Kotabaru
memiliki kepedulian merehabilitasi hutan mangrove, selain pemulihan kerusakan
sekaligus demi kelangsungan ekosistem. "Bila ekosistem rusak, maka akan
terganggu populasi ikan, persedian air bersih, penahan air bersih dan lainnya
yang dapat berdampak pada kelangsungan hidup masyarakat," kata Kepala Desa
Langadai, Eddy Marhadi.
Diungkapkan Eddy, dihadapan Bupati Kotabaru H Irhami Ridjani, Danramil, tokoh
masyarakat dan tokoh agama setempat, dalam sambutan HUT ke-59 Desa Langadai dan
sekaligus diisi dengan peresmian Wisata Mangrove Desa Langadai, Minggu (2/11).
Eddy menambahkan atas dasar itu, PT Indocement Tunggal Prakarsa (Indocement)
Tarjun, tak hanya dengan gigih mengampanyekan rehabilitasi hutan mangrove di
daerah sekitar area pabrik perusahaan. Penyambutan baik Indocement, disusul
dengan pencanangan penanaman bibit pohon mangrove sebanyak 5.000 pohon. Penanaman
bermula pada 5 Juni 2013 silam.
Tak cuma itu, kegiatan tersebut juga membuka usaha untuk warga setempat, karena
perusahaan memberikan kesempatan warga menyediakan bibit mangrove dan
berlangsung secara terus menerus. Bahkan, pada 20 April 2014 lalu, perusahaan
juga melatih beberapa warga untuk melakukan pembudiyaan mangrove. Hal itu,
dimaksudkan, warga selain dapat menyediakan kebutuhan mangrove untuk sekitar
lokasi perusahaan. Akan tetapi, menjadikan Desa Langadai sebagai sentra
produksi bibit pohon mangrove, untuk keperluan daerah di Kabupaten Kotabaru
pada umumnya, serta Desa Langadai, Desa Tarjun dan sekitarnya pada khususnya.
"Pemberdayaan masyarakat binaan Indocement ini mulai menjadi peluang usaha
baru, karena tiap hari lingkungan hidup banyak perusahaan yang memerlukan pohon
bakau, api-api, langadai, dan nipah untuk ditanam sebagai kepedulian terhadap
lingkungan," ucapnya.
Tambah Eddy, seperti pada kegiatan Kemah Bhakti Saka Bhayangkara 5 Juni 2014
lalu, Indocement bekerjasama dengan Saka Bhayangkara melakukan pembelian bibit
pohon mangrove 10.000 pohon. Selain itu, warga juga mendapatkan penghasilan
atas pembelian 3.000 bibit pohon mangrove dari Sahabat Bekantan Indonesia.
SSECSR Dept Head, PT ITP Teguh Iman Basuki mengatakan, pembinaan terhadap
kegiatan rehabilitasi hutan mangrove, selain membuka peluang usaha baru untuk
masyarakat di salah satu desa binaan. Namun, Peresmian Wisata Hutan Mangrove
sekaligus upaya kepedulian terhadap kelestarian hutan mangrove demi
kelangsungan hidup dan ekosistem sekitarnya. " Karena kita akui Kabupaten Kotabaru
adalah daerah yang kaya dengan tanaman hutan mangrove. Oleh karena harus dijaga
bersama-sama kelestariannya, " ungkap Teguh. Ia juga menambahkan, program
dilaksanakan masyarakat yang difasilitasi perusahaan, ini bersifat jangka
panjang.
Bupati Kotabaru H Irhami Ridjani, yang hadir sekaligus meresmikan acara Wisata
Mangrove, dalam sambutannya berpesan kepada warga untuk tetap hidup akur,
tentram, dan damai. Namun, orang nomor satu di Bumi Saijaan ini, juga merespon
positif kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dilakukan masyarakat dan
desa, khususnya di Desa Langadai, Kecamatan Kelumpanghilir.
Oleh karena itu, bupati Kotabaru berpesan, tak hanya wisata mangrove terus
dikembangkan. Akan tetapi, hendaknya tanaman tersebut dapat dikombinasikan
dengan tanaman lainnya seperti nipah dan rambai. "Karena tanaman nipah
seperti diketahui dapat menjadi bahan pembuat gula merah. Sedangkan rambai,
buahnya untuk hewan seperti bekantan. Jadi lengkap di lokasi wisata mangrove
ini," ujarnya.
Karena itu, selain ia menyerahkan kepada pihak ketiga terhadap
kelengkapan infrastruktur di Lokasi Wisata Mangrove. Namun, ia juga akan
meminta kepada Dinas Kehutanan dan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan
Pariwisata (Disporabudpar) membekup secara teknis. "Ya kita akan minta
Dinas Kehutanan dan Disporabudpar mendampingi," pungkasnya.
- Penulis : Humas PT ITP Tarjun - Editor : Rian - Sumber : Gema Saijaan Online