GEMA, TARJUN - Warga antusias sambut kedatangan wakil Bupati Kotabaru, Rudy Suryana saat melakukan kunjungan ke Desa Langadai Kecamatan Kelumpang Hilir, Kotabaru, untuk melihat bank sampah yang di kelola warga binaan Indocement. Sebelumnya warga binaan perusahaan semen tigaroda ini diberikan pelatihan dan pendidikan ke kota Surabaya dan Bogor hingga bisa mengimplementasikannya dengan mendirikan dan membuka Bank Sampah Andesla (Anak Desa Langadai) Desa Langadai.
Inovasi warga desa tersebut membuat Wakil Bupati Kotabaru Rudy Suryana
terkesima saat melihat langsung kegiatan bank sampah
yang dilakukan masyarakat Desa Langadai. Diharapkannnya, dengan adanya bank sampah
itu, tak hanya memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat sekitar. tapi sudah berjalannya bank sampah di Desa Langadai, menjadi percontohan bagi
desa lainnya di kecamatan kelumpang hilir khususnya.
SSECSR Dept Head PT ITP Tarjun, Kecamatan Kelumpang Hilir, Teguh
Iman Basoeki mengatakan, bank sampah tak cuma berjalan di Desa Tarjun dan
Langadai. Namun kegiatan di dukung program CD/CSR, dan akan terus digalakan
khususnya di desa binaan.
Menurut Teguh, pembinaan terhadap masyarakat didesa
binaan PT ITP, melalui program CD/CSR perusahaan tidak hanya pengelolaan bank
sampah yang sekarang sudah menunjukkan keberhasilan. Tapi juga program lainnya
melalui CD/CSR tersebut, yang dimasukkan dalam konsep lima pilar pembangunan
program CSR PT ITP yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosbudagor, dan keamanan.
Adapun mekanisme pengelolaan sampah melalui bank sampah, warga
cukup menyetorkan sampah ke bank sampah setiap minggu kepada pengelola. Dan sampah
yang di setorkan terdiri dari sampah organik dan anorganik, seperti tembaga
aluminium, kuningan dan sampah lainnya.
Harga per kilogramnya bervariasi, mulai
dari harga Rp 50 rupiah hingga Rp 30 ribu. Dapat dipastikan keberadaan bank sampah Andesla tersebut dapat
memberikan nilai tambah untuk penghasilan masyarakat di desa setempat.
“Sampah
disetorkan ke bank sampah seminggu sekali, selanjutnya oleh pengelola akan di
ambil oleh pengumpul. Jadi sampah tidak sampai menumpuk di pengelola,” ujar
salah seorang warga.
Pada umumnya, pengelolaan
sampah melalui bank sampah dapat di laksanakan di desa-desa di ibu kota
kecamatan. Terlebih, pengelolaan bank sampah tersebut selain mendapat dukungan
tetapi disambut antusias warga rutin dengan menyetorkan sampah dikumpulkan selama
seminggu.
Salahsatu Motivator dan Fasilitator, Eva Ariani menjelaskan, pelatihan yang didapatkan di desa jambangan, Surabaya adalah pelatihan tentang
management bank sampah dengan figure dan karateristik yang berbeda di setiap RT
serta pengelolaan sampah daur ulang, dan juga bagaimana peran aktif aparat desa
menjalankan fungsinya untuk mensukseskan program penanggulangan sampah.
Sedangkan di Bogor, kami mendapat
pengetahuan bagaimana cara memasarkan produk dan membuat produk daur ulang menjadi
siap pasar. Selain itu, baik di Surabaya maupun bogor kami mendapat
keterampilan tentang pengolahan sampah organik, pengolahan sampah An-organik
berupa anyaman dari sampah plastik, seperti membuat baju, dompet, tas dan topi, ungkapnya.
Eva meneruskan, Saya kira keterampilan ini sangat aplikatif untuk masyarakat,
selain dapat dipakai sendiri juga layak untuk dipasarkan sehingga menambah
pendapat keluarga, kini banyak keterampilan yang sudah kami ajarkan ke warga
desa lainnya seperti membuat tudung saji, anyaman plastik menjadi tas, dompet,
tikar, souvenir dari kertas Koran.
Untuk bank sampah, kami sudah berdiri dan
aktif sejak 3 bulan yang lalu, semua bahan baku bisa kami dapatkan sehingga
produk-produk tersebut dapat kami buat, lanjut Eva.
- Penulis : Humas ITP Tarjun - Editor : Rian - Sumber : Gema Saijaan Online